apa kalian tahu, sebutan untuk kota Jakarta ? kalau bandung adalah kota kembang. bogor adalah kota hujan. surabaya adalah kota pahlawan. kalau Jakarta ? Metropolitan !. yaa. kota Metropolitan. kota yang merupakan ibu kota negara. semua aktifitas pemerintahan berpusat di sini. dari istana negara. gedung mpr / dpr. hingga gedung-gedung milik perusahaan, baik negeri maupun swasta.
jakarta terkenal dengan kota yang semrawut. itu menurut saya loh. hehe. karena bisa kita lihat, kemacetan dari zaman dahoeloe hingga zaman sekarang masih mewarnai jalan ibukota. panas, polusi, debu, bising itu yang kita rasakan. saya ragu kalau di Jakarta ini masih ada daerah yang ramah lingkungan. kalau pun ada, mungkin saya yang belum menemukan tempat tersebut. tinggal di kota besar seperti ini adalah dambaan semua orang. orang dari desa merantau ke jakarta untuk mengadu nasib. mereka rela meninggalkan anak dan istrinya di desa untuk mencari pekerjaan di sini demi menyambung kehidupan. tak jarang dari mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan kembali ke desa. tapi banyak juga diantara mereka yang mendapatkan pekerjaan yang layak. oleh karena itu Jakarta yang sudah padat penduduknya semakin padat dengan kedatang-kedatangan kaum urbanis.
stetiap harinya harus melawan kemacetan untuk bisa sampai ke kampus. kalau tidak mau kena macet yaa harus lebih awal. tapi tau sendiri anak Jakarta zaman sekarang. susah di atur tapi maunya ngatur. :) kalau sudah terkena macet, ingin rasanya menghilang dari sini. membayangkan berada di tempat yang tenang, sejuk, tanpa macet, tanpa polusi, dan bisa melihat mentari terbit. namun lamunan ku cepat buyar karena harus berdesak-desakkan dengan penumpang metromini yang lainnya. tapi saya bersyukur tinggal di sini. karena semua yang kita jalankan adalah nikmat-Nya.
merasakan udara sejuk, menikmati panorama nan indah dan berkumpul bersama sanak saudara hanya bisa dilakuakan satu tahun sekali. momentnya pas lebaran. yups. MUDIK. suasana desa nan permai dengan masih terdengar suara burung berkicau menemani dang mentari keluar dari peraduannya, harum embun ketika pagi dan nyanyian dedauanan yang tergesek oleh angin. sungguh hal yang tak bisa dirasakan di kota besar seperti Jakarta. terlihat juga gunung menjulang dengan menunjukkan kekokohannya serta hamparan sawah keemasan karena musim panen telah tiba. sering sekali berharap dalam mimpi, suatu saat kota Jakarta akan seperti itu. tanpa macet, tanpa polusi, tanpa bising, tanpa asap-asap pabrik dan tanpa gedung-gedung tinggi, pencakar langit. suatu hal yang mustahil yang dapat disimpulkan. sudah menjadi takdir dari-Nya akan suasana Jakarta seperti itu.
harapan da mimpi tak pernah lepas dari kehidupan manusia. mimpi akan menjadi orang sukses dengan yang dicita-citakan serta harapan dapat membahagiakan kedua orang tua. mimpi akan kota jakarta akan seperti desa sungguhlah sulit. karena masing-masing sudah mempunyai kodratnya. mumpung berada di tempat yang indah ini, akan ku habiskan waktu untuk melepaskan kepenatan yang ku bawa dari kota kelahiranku. mendaki gunung dengan memetik hasil kebun sendiri, berjalan di pematang sawah dengan membantu nenek memetik benih-benih padi yang sudah berwarna kuning keemasan. melihat sungai dengan meikmati alunan suara air yang mengalir. dan menghirup udara segar yang bertabur wangi embun, serta tak lupa menikmati pemandangan mentari yang hendak muncul dan tenggelam di ufuk barat. suatu saat aku pasti kembali ke desa nan permai dan tak lupa berharap tidak ada perubahan di sana. serta kembali ke ibukota untuk menjalani aktivitas shari-hari dan tak lupa bermimpi dengan harapan kota ku nan ramai dapat lebih tertata rapi.
itulah antara kota dengan desa. serupa tapi tak sama. dan banyak impian bertabur harapan bagi manusia yang hidup di dalamnya....
-end-