Entri Populer

Kamis, 20 Maret 2014

..a place

kembali menatap jam dinding yang detiknya tak pernah berhenti, kecuali daya beterainya yang sudah habis. ya, Ara kerap sekali mempertajamkan matanya, memaksa pikirannya untuk merencakan atau mengulang memori diotaknya. untuk waktu, Ara memang tak pernah sependapat. tak ada seorang pun yang bisa memahaminya. jika pun bisa memahami, tak pernah ia memberikan janji-janjinya. yang bisa dilakukan ialah hanya mengikuti permainan-permainannya disetiap detik yang ia hembuskan. masih saja mempertajam matanya, ditambah dengan mengernyitkan dahi. belum ada peristiwa yang ingin dibangunnya. batin pun bergejolak. tentu saja Ara tak dapat membiarkan hal ini. semakin mempertajam matanya, diselingi dengan helaan nafasnya, sehingga Ara dapat mendengar bisikan detiknya. "sial!" satu kata terlontar dari bibir mungilnya pertanda jiwa yang ikut memberontak. sudah dua puluh menit yang terhitumg, Ara hanya berdiam diri. bertambah lima belas detik untuk mengukir peristiwa demi peristiwa dimemori otaknya untuk segera bergegas. "oke. siap!". dua kata yang akan membawanya ke dalam peristiwa yang akan Ara ciptakan. 

selayaknya gadis seumurannya, Ara mempersiapkan diri untuk senja hari ini. berbalut kaos oblong berwarna hijau bermotif garis-garis yang menutupi semua lengannya, Ara serasikan dengan kerudung hijau tua polos dan tak lupa jeans hitam yang membuat Ara berkata "nice" kepada pantulannya dicermin. ketika semuanya sudah pantas dikatakan "perfect", Ara segera bergegas. melangkahkan kakinya bersama senandung klakson-klakson kendaraan maupun berlomba-lomba menghirup asap knalpot yang sudah menjadi makanan sehari para pengguna jalan. tidak heran, memang. jika ibukota yang memiliki banyak gedung-gedung tinggi sebagai pusat perkantoran, hotel maupun apartemen. pusat-pusat perbelanjaan yang kian memanjakan para hedonis. sampai "mart" yang kian bersanding dan mudah ditemukan bak kacang rebus. sering kali Ara mendongakan kepalanya ketika melihat gedung tinggi. norak? bukan. ironis! untuk ibukota sebagai pusatnya sebuah negara kian hari kian memprihatinkan. orang-orangnya tidak sepertu dulu. tanahnya tidak seperti dulu. alamnya tidak seperti dulu. romantismenya pun tidak seperti dulu. itu pun Ara mengetahuinya dari cerita orang dulu. 

ketika Ara teringat akan cerita orang dulu, ia hanya bisa tersenyum meringis. terlebih ironis untuk batin yang kian memberontak ketika Ara hanya bisa melontarkan kalimat-kalimat kekesalannya pada kondisi si ibukota sekarang ini tanpa bisa melakukannya. untuk meredamnya, tentu saja Ara meragkai seuntai do'a pertanda banyak sekali harapan untuk ibukota kesayangannya. masih dalam melangkahkan kakinya, terbesit dalam benak Ara untuk mengorek sebuah tempat yang tak biasa seperti biasanya ditengah kebisingan mesin-mesin industri. kembali menatap lukisan biru-Mu berbalut kapas sebagai luapan imajinasi. tatkala Ara mendapatkan senyum sumringah dari alam-Mu. memulai, merasakan, menari bersama ilusi yang diciptakannya sendiri. hamparan kehijauan dapat berkaca pada bulir-bulir embun yang dimilikinya. berbatas trotoar berkawan lampu jalan yang masih padam, meyakinkan Ara untuk melangkah menjauh dari aspal jalanan. berjalanan pada pematang yang dimilikinya, melirik kantong-kantong bening melambai, memeluk erat kembali udara, sampai pada rentangan kedua tangan mungilnya dengan mendongak kepala mengikuti mata yang terpejam dan sebuah kata terucap dalam hati "ini imaji nyata. seandainya.............................................."  

21 Maret 2014
01:18

Kamis, 30 Januari 2014

#myautumn

..dan seperti biasanya, Ara begitu ia dipanggil, sedang memilah-milah kaos yang akan dikenakan untuk sore ini. yang hitam? ungu? hijau? atau biru tosca? gak lupa ia melirik ke arah jam weker berbentuk kotak yang ia letakkan di atas box pakaiannya berwarna hjiau. masih memilah-milah dan ia harus segera memutuskan karena waktu terus berjalan tanpa peduli kepada siapa pun. kaos hitam pendek dengan kemeja kotak-kotak ungu sebagai pelapis luarnya. celana jeans hitam, serta kerudung ungu tidak lupa ia kenakan untuk menselaraskan penampilannya. dengan make up sekedarnya dan parfume yang menambah ciri khas aroma tubuhnya. cepat namun pasti. dengan bantuan cermin, ia memastikan keselarasan penampilannya. dengan berpamit kepada kedua orang tuanya, ia menuju ke pintu pagar dan mengeluarkan si putih. si putih ia sebutkan untuk sebuah motor berwarna putih pemberian sang ayah. dengan beralas kaki sendal gunung, ia langsung melajukannya.
tak seperti biasanya, kali ini langit mu tersenyum mesra. bersama awan dengan putihnya, cahaya bening tak lupa mengintip disela-selanya. tak terasa, ia tersenyum kecil seakan membalas langit yang sudah memberikan senyumannya. udara sejuk pun merayu, mengisyaratkan ia untuk berhenti ke suatu tempat. tempat dimana ia bisa meluapkan segala rasa, ekspresi, cerita, hingga kisah. sedikit menaikkan kecepatan lajunya dengan pasti karena ia ingin cepat berada di sana.
yupz.. hitungan waktu empat puluh tujuh menit lewat sebelas detik. segera ia mendirikan si putih disamping pohon setengah besar nan kokoh yang sudah lahir sejak ia waktu dulu. yaa! waktu dulu! seperti biasa, langsung saja ia menyandarkan dirinya di sebuah kursi besi panjang putih tepat menyerong dari arah pohon tadi tersebut. memejamkan mata sejenak. menyambut alam dengan belaian udaranya, mendengarkan gesekan-gesekan dedaunan yang dibuatnya menari, dan cahaya jingga yang menyorot sebelah mukanya. srek! daun cokelat jatuh tepat di atas dahinya, membuyarkan komunikasinya dengan alam. "autumn is comes" begitu ucapnya. kemudian ia berdiri, berpijak pada kehijauan rumput, memandang barat untuk sang mentari pergi, membentangkan kedua tangan, menatap tajam-tajam kepada jingga, hingga ia mengerti tanpa mata membuka.
dan lagi. kembali menyambut alam mu
bersama jingga untuk senja
hingga sang raja berpulang
terpeluk udara yang membelai
untuk seru deru nyanyian yang tercipta
dendang kan lagu riang
hingga terbesit senyuman mesra mu, kelak
akan setia, pada musim gugur mu..

31 Februari 2014
02:13

Sabtu, 25 Januari 2014

#celoteh

Intropeksi

cahaya lampu-lampu kota masih kokoh menerangi tempat persinggahan
irama klakson-klakson kendaraan mengiringi setiap langkah
udara pun sangat setia pada jiwa
yang terlampau dalam imajinasi
hingga bungkam
mamandang wajah dalam cermin retak
01:28 110513

Kenangan

ku dapati bisikan daun yang menyatu dalam sunyi
belaiannya masih bisa ku rasakan
tergores rintik bersama cahaya putih
di bawahnya aku tidak dapat merasa
dan aku ingin
suatu hari ia pasti akan menyapa
01:22 080513

Pak Tua

kau tidak mengeluh, meski tak beralas kaki
kau tidak mengeluh
meski harus terbakar matahari
dan kau pun tidak menyeka keringat yang membendung
namun terdengar isu yang tersibak
diantara udara yang usil
tentang rintihan
tentang jeritan
dan mengaduh
itu kau!
yang bersendagurau pada dinding bilik bambu
yang tersenyum pada atap alang-alang
23:42 130513

Celoteh #1

dan kembali pada dewi malam
yang merangkul sang raja
pada lembah kenistaan ku berada dalam selimut rindu
sementara lupa untuk pelangi mu
22:17 130513

Celoteh #2

cerah yang kau miliki
tak dapat membendung segala kekhawatiran
apakah langit masih dengan birunya
awan setia pada putihnya
serta jingga dalam senja
kau dalam seru deru nyanyian alam
peluklah jiwa yang sepi
13:35 110513

Celoteh #3

itukah cara hujan
untuk mewakili setiap kesedihan
entah kapan terakhir waktu
mendapatkan kebahagiaan ditengah deras mu
agar kau tahu (mungkin)
#inmyimagine
00:47 110513

Celoteh #4

pelangiku sudah lama
mendusta
sering kali rintik mengibaskan
dibenak ku tanpa lembayung
atau pun kau
060513

P.E.K.A

kata orang pelangi memiliki tujuh warna yang indah
jika satu warna tidak ada di dalamnya
apakah masih bisa dikatakan
bila itu adalah sebuah pelangi
mungkin jika orang itu memang egois
dan mengatakan bahwa itu adalah pelangi
dan aku tidak mengatakan itu
jika pelangi
kehilangan satu warna sekali pun
01:36 150513

Menatap

tik tok arloji
meruap, memecah sepi
masih saja kepada waktu
yang menentukan dan mensiasati
dalam setiap ilusi
berimaji dengan sesuka hati
entah...
apa aku terlalu banyak berharap
atau mimpi-mimpi yang ku buat sendiri
agar bisa menatap cakrawala
di senja di atas bukit
menikmati belaian di setiap peluh
sampai mata tertutup
dan waktu mu menjawab ku

Aku BERHARAP

pada sebuah kepercayaan
aku berharap
pada sebuah kerinduan
aku berharap
pada sebuah keharmonisan
aku berharap
pada sebuah pertengkaran
aku berharap
pada sebuah cinta kasih
aku berharap
N A M U N
pada sebuah masa depan
kita berharap

Menunggu

lajunya seperti biasa
yaa empat puluh kilometer per jam
dari rumah menuju tempat tujuan
ku berpikir
aku akan singgah dulu
menghabiskan sebatang rokok
sambil menunggu kabar dari mu
entah...
apa yang diinginkan langit
yang selalu meratap sepi sedih
yaa.. mungkin saja memang sedang waktunya
menunggu
sampai hujan reda
15:18 180114

FokuS

1 2 3 4 5 6 7 8 ...
akh ! aku lupa!
selanjutnya?
4 5 6 7 8 9 10 11 ...
berhenti! aku lupa!
selanjutnya?
... ... .... .... .... .... ... ... .... .... .... .... ....
kok malah tak ada angka?
kosong?
tidak!
nol?
tidak!
lalu?
buyar! fokus!
argh!
diam!
15:47 190114

Ocehan

tik
tik tik
tik tik tik
tik tik tik tik
tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik
pelan pak
pelan pelan bu
pelan mas
pelan pelan mbak
woy! pean pelan, anjing!
genangan airnya nyiprat, setan alas!
bangke! brengsek! bangsat! basah!
15:51 190114