kembali menatap jam dinding yang detiknya tak pernah berhenti, kecuali daya beterainya yang sudah habis. ya, Ara kerap sekali mempertajamkan matanya, memaksa pikirannya untuk merencakan atau mengulang memori diotaknya. untuk waktu, Ara memang tak pernah sependapat. tak ada seorang pun yang bisa memahaminya. jika pun bisa memahami, tak pernah ia memberikan janji-janjinya. yang bisa dilakukan ialah hanya mengikuti permainan-permainannya disetiap detik yang ia hembuskan. masih saja mempertajam matanya, ditambah dengan mengernyitkan dahi. belum ada peristiwa yang ingin dibangunnya. batin pun bergejolak. tentu saja Ara tak dapat membiarkan hal ini. semakin mempertajam matanya, diselingi dengan helaan nafasnya, sehingga Ara dapat mendengar bisikan detiknya. "sial!" satu kata terlontar dari bibir mungilnya pertanda jiwa yang ikut memberontak. sudah dua puluh menit yang terhitumg, Ara hanya berdiam diri. bertambah lima belas detik untuk mengukir peristiwa demi peristiwa dimemori otaknya untuk segera bergegas. "oke. siap!". dua kata yang akan membawanya ke dalam peristiwa yang akan Ara ciptakan.
selayaknya gadis seumurannya, Ara mempersiapkan diri untuk senja hari ini. berbalut kaos oblong berwarna hijau bermotif garis-garis yang menutupi semua lengannya, Ara serasikan dengan kerudung hijau tua polos dan tak lupa jeans hitam yang membuat Ara berkata "nice" kepada pantulannya dicermin. ketika semuanya sudah pantas dikatakan "perfect", Ara segera bergegas. melangkahkan kakinya bersama senandung klakson-klakson kendaraan maupun berlomba-lomba menghirup asap knalpot yang sudah menjadi makanan sehari para pengguna jalan. tidak heran, memang. jika ibukota yang memiliki banyak gedung-gedung tinggi sebagai pusat perkantoran, hotel maupun apartemen. pusat-pusat perbelanjaan yang kian memanjakan para hedonis. sampai "mart" yang kian bersanding dan mudah ditemukan bak kacang rebus. sering kali Ara mendongakan kepalanya ketika melihat gedung tinggi. norak? bukan. ironis! untuk ibukota sebagai pusatnya sebuah negara kian hari kian memprihatinkan. orang-orangnya tidak sepertu dulu. tanahnya tidak seperti dulu. alamnya tidak seperti dulu. romantismenya pun tidak seperti dulu. itu pun Ara mengetahuinya dari cerita orang dulu.
ketika Ara teringat akan cerita orang dulu, ia hanya bisa tersenyum meringis. terlebih ironis untuk batin yang kian memberontak ketika Ara hanya bisa melontarkan kalimat-kalimat kekesalannya pada kondisi si ibukota sekarang ini tanpa bisa melakukannya. untuk meredamnya, tentu saja Ara meragkai seuntai do'a pertanda banyak sekali harapan untuk ibukota kesayangannya. masih dalam melangkahkan kakinya, terbesit dalam benak Ara untuk mengorek sebuah tempat yang tak biasa seperti biasanya ditengah kebisingan mesin-mesin industri. kembali menatap lukisan biru-Mu berbalut kapas sebagai luapan imajinasi. tatkala Ara mendapatkan senyum sumringah dari alam-Mu. memulai, merasakan, menari bersama ilusi yang diciptakannya sendiri. hamparan kehijauan dapat berkaca pada bulir-bulir embun yang dimilikinya. berbatas trotoar berkawan lampu jalan yang masih padam, meyakinkan Ara untuk melangkah menjauh dari aspal jalanan. berjalanan pada pematang yang dimilikinya, melirik kantong-kantong bening melambai, memeluk erat kembali udara, sampai pada rentangan kedua tangan mungilnya dengan mendongak kepala mengikuti mata yang terpejam dan sebuah kata terucap dalam hati "ini imaji nyata. seandainya.............................................."
21 Maret 2014
01:18