"wow", pekiknya. dengan sejuta kekaguman yang bisa dirasakannya, ia membelakakkan sepasang mata cokelatnya. Ara yang siang itu, lagi (lagi) dan lagi seorang sendiri, namun si putih, kendaraannya yang masih sangat setia menemani kemana pun ia mau. berada ditempat yang sederhana, tidak banyak orang yang singgah tapi sangat nyaman dan indah, akan menjadi tempat kesukaannya. berbabalut rerumputan hijau, ilalang putih yang terus melambai mesra karena udara yang usil, mentari terik yang setia menyapa, cukup untuk membuat Ara terbuai akan kesederhanaan tempat itu dengan kenyamanan yang diberikan pohon yang tidak cukup besar namun rindang. Ara menyandarkan tubuhnya ke batang pohon tersebut dan meminta perlindungan dari teriknya sang Raja disiang itu. merasakan udara yang membelai kerudung merahnya saat itu, menjadikan matanya terpejam dan melepaskan semua bebannya. memang saat seperti itu yang selalu menjadi andalannya ketika ia penat dengan masalah kehidupan. masalah yang sering ia ciptakan sendiri dengan sang detik, mungkin. tapi saat ini, ia hanya ingin melupakan semua itu, hanya ingin merasakan belaian alam yang bisa ia rasakan kapan pun ia mau.
SREK. terdengar suara gesekan diantara dedaunan yang jatuh karena mengering. seketika ia menolehkan sumber suara tersebut. Ara terkejut bukan kepalang. dengan sigap, ia langsung memasang kuda-kuda dan mengepalkan tanganya seperti ingin meninju. "mau apa kamu?", tanya Ara memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tersebut. seorang laki-laki yang berbadan tidak terlalu tinggi dari dirinya, mengenakan jaket merah yang serasi dengan topinya. mengingat badannya tidak terlalu tinggi jadi Ara bisa lebih mudah untuk melayangkan tinjunya jika laki-laki tersebut bertindak macam-macam.
"tenang. aku tidak berniat jahat, kriminal, atau sebagainya. aku ke sini hanya ingin singgah sebentar. sebab saat dalam perjalanan tadi, kepala saya terasa agak sakit sedikit. boleh tidak, aku beristirahat disini sebentar?", jelas laki-laki tersebut.
Ara menangguk tanda setuju.
dan dengan hitungan detik, laki-laki tersebut sudah terlelap dengan mata terpejam dan sedikit agak mengenyirtkan tanda ia merasakan sakit dikepalanya. angin yang ramah turut membelai tubuh laki-laki tersebut. Ara mash tak lepas dari memandang laki-laki tersebut. pertanyaan konyol mulai bergelut didalam benaknya, kenapa dia memakai jaket dan topi dengan warna yang sama dengan kerudung aku?. kenapa dia bisa tahu tempat ini?. apa dia sudah sering ke sini?. kenapa dia berpenampilan sederhana, tidak seperti laki-laki pada umumnya?. kelihatannya dia orang baik-baik yahh?. tiba-tiba, laki-laki tersebut menggerakkan tanganynya, dan menyadarkan lamunan serta pandagan Ara ke laki-laki tersebut. seketika, laki-laki tersebut membuka kedua matanya perlahan agar tidak terlalu silau karena sinar sang Raja. dan sesekali ia memegang kepalanya, hanya memastikan bahwa kepalanya baik-baik saja.
Ara yang sedang memegang telepon selulernya, seperti ia sedang membaca pesan singkat yang diterimanya, sejak ia tahu laki-laki tersebut akan membuka matanya, sambil terus menatap layar telepon selulernya, pikiran Ara berkecamuk. ingin ia segera beranjak dan berlari meninggalkan laki-laki tersebut atau berteriak seketika jika laki-laki tersebut menyakitinya atau Ara akan dikira tidak bertanggungawab karena meninggalkan orang yang sedang memerlukan bantuan. maka DIAM adalah senjata yang paling ampuh.
"maaf. perkenalkan, aku Azar. nama kamu siapa wahai wanita cantik berkerudung merah?", tanya laki-laki tersebut.
mata Ara langsung terbelakak dan menatap tajam dalam-dalam ke mata laki-laki tersebut. berusaha menegaskan atas perkataan laki-laki tersebut. seraya tersenyum, laki-laki tersebut mengulurkan tangannya "siapa nama mu?".
"Ara", jawabnya singkat.
"kenapa wanita secantik kamu bisa berada ditempat seperti ini?'
"sudah. jangan berani berani mencoba merayu!. berbicara sewajarnya!"
"oups. maaf. maaf jika aku kurang sopan dengan kamu beranggapan aku merayu mu. tapi aku sama sekali tidak ingin merayu kamu, aku berbicara apa adanya. kamu sangat cantik dengan berbalut kerudung merah yang kamu kenakan, Ara".
Ara diam dan tertegun. selama hidupnya ia mengenakan hijab, belum ada seorang yang mengatakan bahwa ia berparas cantik. karena dirinya pun menganggap biasa-biasa saja. apa yang diiinginkan laki-laki yang bernama Azar itu. mengapa ia langsung berani mengatakan bahwa dirinya cantik, padahal ia baru saja mengenalnya. kenapa ia harus bertemu dengannya. seketika, lambaian tangan Azar membuyarkan lamunannya "hei. kok melamun?. tidak perlu terpesona karena ketampanan ku yaa. hahaha".
"apa?. terpesona dengan ketampanan mu?. rasa percaya diri mu besar sekali ya!. aku bukannya terpesona karena ketampanan mu, tapi karena kotoran yang ada dimata mu sangat mengganggu muka lelah mu. hahaha", tawa Ara memecah keadaan. Azar tersenyum. melihat wanita secantik Ara tertawa lebar dengan lepas, menjadikan wanita yang tidak pada umumnya dan hal tersebut mulai menarik perhatian Azar untuk ingin mengenal Ara lebih dekat.
"jam berapa sekarang?", tanya Ara memecah keheningan.
"jam tiga kurang sepuluh menit", jawab Azar.
"sial!. detiknya selalu kejam. kamu sudah agak baikan kan?. kalau tidak keberatan, aku pergi duluan. ada urusan", jelas Ara.
"iyah, Ara. terimakasih ya sudah mengizinkan aku beristirahat sebentar ditempat ini. kamu pergi saja. semoga kita bisa berjumpa lagi disini"
"kita? bertemu lagi? apakah mungkin? bagaimana bisa?"
"ini", sambil menyodorkan kartu nama.
"oke. sampai bertemu lagi, zar", sambil Ara melambaikan tangannya.
Azar menatap Ara yang membelakangi dirinya. sampai Ara pergi dengan si putih, Azar masih memandanginya. Ara, wanita berparas cantik namun apa adanya, membuat Azar semakin ingin mengetahui seluk beluk wanita misterius yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. dengan hati yang bertanya-tanya, kenapa Tuhan bisa mengirimkan bidadari secantik Ara, ia melanjutkan perjalanannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar