Entri Populer

Jumat, 30 November 2012

R A I N

sudah selesaikah hujan tadi ?. akh. aku terlalu benci dengan ia. selalu tidak tepat janji dengan pelangi. tak pernah ku lihat pelangi setelah ia pergi. tak pernah ku lihat warna-warnanya yang kata orang-orang ada tujuh warna. hanya saja ketiga warna yang sering dibicarakan. belaian angin pada daun tua mengusik rantingnya. kabarnya pun ku dapat darinya. entah kapan aku dapat mendengar hujan tepat akan janjinya. janji ketika ia pergi akan ada pelangi setelahnya. sudah semenjak aku masih berseragamkan putih merah sampai aku tak kanak-kanak lagi, masih tetap menanti kedatangannya. dapat ku ceritakan sebelum hujan menyapa tanah. ini memang sudah skenario yang memiliki alam semesta. ketika itu siang dikala malam. siang setelah sang raja menyinari setiap permukaan alam. dengan diiringi awan putih bak kapas putih menghiasi langitnya. biru dan sumringah. bening air yang bersemayam di setiap cekungan, kadang tidak tahan dengan sang raja. uapnya menari ke atas hingga membentuk awan. awan pun mudah goyah ketika angin sudah mulai membelai. tak dapat dibendungnya uap air hingga hujan pun terlahir darinya. ketika hujan berlari ke bumi, tak mampu kita menghitung dengan rumus matematika, fisika atau rumus a.einstein sekalipun mengenai jumlah tetes air yang sampai ke bumi. entah ia tahu atau tidak, jika setiap tetesan air yang bersamanya, membawa malaikat. sungguh jumlah yang tidak sedikit. seharusnya para manusia bersyukur ketika hujan masih mau menyapa. jika hujan sudah enggan maka tak ada tanah yang basah karenanya. yang ada membentuk retakan-retakan tanda kekeringan. manusia hanya bisa menyalahkan alam. tanpa melihat manfaat yang diberikan. yaa walaupun terkadang mengucap "syukur". setelah ia mulai pergi, aku selalu dan selalu berharap pelangi mengintip dibias cahaya itu. tapi belakangan ini ia enggan dengan eksistensinya. yaa mungkin hanya bisa bersabar untuk hal itu. sudah rindu rasanya ingin menyaksikan kembali aksinya. walaupun hanya seperkian second dari waktu yang biasanya seenak perutnya. tidak pernah mengerti akan suasana nikmat. masih seperti dulu kok. di atas tanah bumi pertiwi, di samping bunga bunga cempaka, di belakan pohon cemara dengan daun tuanya, dan di depan cahaya cakrawala untuk menikmati sedikit bias cahaya mu.