..dan seperti biasanya, Ara begitu ia dipanggil, sedang memilah-milah kaos yang akan dikenakan untuk sore ini. yang hitam? ungu? hijau? atau biru tosca? gak lupa ia melirik ke arah jam weker berbentuk kotak yang ia letakkan di atas box pakaiannya berwarna hjiau. masih memilah-milah dan ia harus segera memutuskan karena waktu terus berjalan tanpa peduli kepada siapa pun. kaos hitam pendek dengan kemeja kotak-kotak ungu sebagai pelapis luarnya. celana jeans hitam, serta kerudung ungu tidak lupa ia kenakan untuk menselaraskan penampilannya. dengan make up sekedarnya dan parfume yang menambah ciri khas aroma tubuhnya. cepat namun pasti. dengan bantuan cermin, ia memastikan keselarasan penampilannya. dengan berpamit kepada kedua orang tuanya, ia menuju ke pintu pagar dan mengeluarkan si putih. si putih ia sebutkan untuk sebuah motor berwarna putih pemberian sang ayah. dengan beralas kaki sendal gunung, ia langsung melajukannya.
tak seperti biasanya, kali ini langit mu tersenyum mesra. bersama awan dengan putihnya, cahaya bening tak lupa mengintip disela-selanya. tak terasa, ia tersenyum kecil seakan membalas langit yang sudah memberikan senyumannya. udara sejuk pun merayu, mengisyaratkan ia untuk berhenti ke suatu tempat. tempat dimana ia bisa meluapkan segala rasa, ekspresi, cerita, hingga kisah. sedikit menaikkan kecepatan lajunya dengan pasti karena ia ingin cepat berada di sana.
yupz.. hitungan waktu empat puluh tujuh menit lewat sebelas detik. segera ia mendirikan si putih disamping pohon setengah besar nan kokoh yang sudah lahir sejak ia waktu dulu. yaa! waktu dulu! seperti biasa, langsung saja ia menyandarkan dirinya di sebuah kursi besi panjang putih tepat menyerong dari arah pohon tadi tersebut. memejamkan mata sejenak. menyambut alam dengan belaian udaranya, mendengarkan gesekan-gesekan dedaunan yang dibuatnya menari, dan cahaya jingga yang menyorot sebelah mukanya. srek! daun cokelat jatuh tepat di atas dahinya, membuyarkan komunikasinya dengan alam. "autumn is comes" begitu ucapnya. kemudian ia berdiri, berpijak pada kehijauan rumput, memandang barat untuk sang mentari pergi, membentangkan kedua tangan, menatap tajam-tajam kepada jingga, hingga ia mengerti tanpa mata membuka.
dan lagi. kembali menyambut alam mu
bersama jingga untuk senja
hingga sang raja berpulang
terpeluk udara yang membelai
untuk seru deru nyanyian yang tercipta
dendang kan lagu riang
hingga terbesit senyuman mesra mu, kelak
akan setia, pada musim gugur mu..
31 Februari 2014
02:13