Entri Populer

Minggu, 01 Februari 2015

K I S A H #1

"wow", pekiknya. dengan sejuta kekaguman yang bisa dirasakannya, ia membelakakkan sepasang mata cokelatnya. Ara yang siang itu, lagi (lagi) dan lagi seorang sendiri, namun si putih, kendaraannya yang masih sangat setia menemani kemana pun ia mau. berada ditempat yang sederhana, tidak banyak orang yang singgah tapi sangat nyaman dan indah, akan menjadi tempat kesukaannya. berbabalut rerumputan hijau, ilalang putih yang terus melambai mesra karena udara yang usil, mentari terik yang setia menyapa, cukup untuk membuat Ara terbuai akan kesederhanaan tempat itu dengan kenyamanan yang diberikan pohon yang tidak cukup besar namun rindang. Ara menyandarkan tubuhnya ke batang pohon tersebut dan meminta perlindungan dari teriknya sang Raja disiang itu. merasakan udara yang membelai kerudung merahnya saat itu, menjadikan matanya terpejam dan melepaskan semua bebannya. memang saat seperti itu yang selalu menjadi andalannya ketika ia penat dengan masalah kehidupan. masalah yang sering ia ciptakan sendiri dengan sang detik, mungkin. tapi saat ini, ia hanya ingin melupakan semua itu, hanya ingin merasakan belaian alam yang bisa ia rasakan kapan pun ia mau. 
SREK. terdengar suara gesekan diantara dedaunan yang jatuh karena mengering. seketika ia menolehkan sumber suara tersebut. Ara terkejut bukan kepalang. dengan sigap, ia langsung memasang kuda-kuda dan mengepalkan tanganya seperti ingin meninju. "mau apa kamu?", tanya Ara memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tersebut. seorang laki-laki yang berbadan tidak terlalu tinggi dari dirinya, mengenakan jaket merah yang serasi dengan topinya. mengingat badannya tidak terlalu tinggi jadi Ara bisa lebih mudah untuk melayangkan tinjunya jika laki-laki tersebut bertindak macam-macam. 

"tenang. aku tidak berniat jahat, kriminal, atau sebagainya. aku ke sini hanya ingin singgah sebentar. sebab saat dalam perjalanan tadi, kepala saya terasa agak sakit sedikit. boleh tidak, aku beristirahat disini sebentar?", jelas laki-laki tersebut.

Ara menangguk tanda setuju. 
dan dengan hitungan detik, laki-laki tersebut sudah terlelap dengan mata terpejam dan sedikit agak mengenyirtkan tanda ia merasakan sakit dikepalanya. angin yang ramah turut membelai tubuh laki-laki tersebut. Ara mash tak lepas dari memandang laki-laki tersebut. pertanyaan konyol mulai bergelut didalam benaknya, kenapa dia memakai jaket dan topi dengan warna yang sama dengan kerudung aku?. kenapa dia bisa tahu tempat ini?. apa dia sudah sering ke sini?. kenapa dia berpenampilan sederhana, tidak seperti laki-laki pada umumnya?. kelihatannya dia orang baik-baik yahh?. tiba-tiba, laki-laki tersebut menggerakkan tanganynya, dan menyadarkan lamunan serta pandagan Ara ke laki-laki tersebut. seketika, laki-laki tersebut membuka kedua matanya perlahan agar tidak terlalu silau karena sinar sang Raja. dan sesekali ia memegang kepalanya, hanya memastikan bahwa kepalanya baik-baik saja. 

Ara yang sedang memegang telepon selulernya, seperti ia sedang membaca pesan singkat yang diterimanya, sejak ia tahu laki-laki tersebut akan membuka matanya, sambil terus menatap layar telepon selulernya, pikiran Ara berkecamuk. ingin ia segera beranjak dan berlari meninggalkan laki-laki tersebut atau berteriak seketika jika laki-laki tersebut menyakitinya atau Ara akan dikira tidak bertanggungawab karena meninggalkan orang yang sedang memerlukan bantuan. maka DIAM adalah senjata yang paling ampuh.

"maaf. perkenalkan, aku Azar. nama kamu siapa wahai wanita cantik berkerudung merah?", tanya laki-laki tersebut.

mata Ara langsung terbelakak dan menatap tajam dalam-dalam ke mata laki-laki tersebut. berusaha menegaskan atas perkataan laki-laki tersebut. seraya tersenyum, laki-laki tersebut mengulurkan tangannya "siapa nama mu?". 

"Ara", jawabnya singkat.
"kenapa wanita secantik kamu bisa berada ditempat seperti ini?'
"sudah. jangan berani berani mencoba merayu!. berbicara sewajarnya!"
"oups. maaf. maaf jika aku kurang sopan dengan kamu beranggapan aku merayu mu. tapi aku sama sekali tidak ingin merayu kamu, aku berbicara apa adanya. kamu sangat cantik dengan berbalut kerudung merah yang kamu kenakan, Ara".

Ara diam dan tertegun. selama hidupnya ia mengenakan hijab, belum ada seorang yang mengatakan bahwa ia berparas cantik. karena dirinya pun menganggap biasa-biasa saja. apa yang diiinginkan laki-laki yang bernama Azar itu. mengapa ia langsung berani mengatakan bahwa dirinya cantik, padahal ia baru saja mengenalnya. kenapa ia harus bertemu dengannya. seketika, lambaian tangan Azar membuyarkan lamunannya "hei. kok melamun?. tidak perlu terpesona karena ketampanan ku yaa. hahaha".

"apa?. terpesona dengan ketampanan mu?. rasa percaya diri mu besar sekali ya!. aku bukannya terpesona karena ketampanan mu, tapi karena kotoran yang ada dimata mu sangat mengganggu muka lelah mu. hahaha", tawa Ara memecah keadaan. Azar tersenyum. melihat wanita secantik Ara tertawa lebar dengan lepas, menjadikan wanita yang tidak pada umumnya dan hal tersebut mulai menarik perhatian Azar untuk ingin mengenal Ara lebih dekat. 

"jam berapa sekarang?", tanya Ara memecah keheningan.

"jam tiga kurang sepuluh menit", jawab Azar.

"sial!. detiknya selalu kejam. kamu sudah agak baikan kan?. kalau tidak keberatan, aku pergi duluan. ada urusan", jelas Ara.

"iyah, Ara. terimakasih ya sudah mengizinkan aku beristirahat sebentar ditempat ini. kamu pergi saja. semoga kita bisa berjumpa lagi disini"

"kita? bertemu lagi? apakah mungkin? bagaimana bisa?"

"ini", sambil menyodorkan kartu nama.

"oke. sampai bertemu lagi, zar", sambil Ara melambaikan tangannya.

Azar menatap Ara yang membelakangi dirinya. sampai Ara pergi dengan si putih, Azar masih memandanginya. Ara, wanita berparas cantik namun apa adanya, membuat Azar semakin ingin mengetahui seluk beluk wanita misterius yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. dengan hati yang bertanya-tanya, kenapa Tuhan bisa mengirimkan bidadari secantik Ara, ia melanjutkan perjalanannya. 

#tobecontinued

Kamis, 20 Maret 2014

..a place

kembali menatap jam dinding yang detiknya tak pernah berhenti, kecuali daya beterainya yang sudah habis. ya, Ara kerap sekali mempertajamkan matanya, memaksa pikirannya untuk merencakan atau mengulang memori diotaknya. untuk waktu, Ara memang tak pernah sependapat. tak ada seorang pun yang bisa memahaminya. jika pun bisa memahami, tak pernah ia memberikan janji-janjinya. yang bisa dilakukan ialah hanya mengikuti permainan-permainannya disetiap detik yang ia hembuskan. masih saja mempertajam matanya, ditambah dengan mengernyitkan dahi. belum ada peristiwa yang ingin dibangunnya. batin pun bergejolak. tentu saja Ara tak dapat membiarkan hal ini. semakin mempertajam matanya, diselingi dengan helaan nafasnya, sehingga Ara dapat mendengar bisikan detiknya. "sial!" satu kata terlontar dari bibir mungilnya pertanda jiwa yang ikut memberontak. sudah dua puluh menit yang terhitumg, Ara hanya berdiam diri. bertambah lima belas detik untuk mengukir peristiwa demi peristiwa dimemori otaknya untuk segera bergegas. "oke. siap!". dua kata yang akan membawanya ke dalam peristiwa yang akan Ara ciptakan. 

selayaknya gadis seumurannya, Ara mempersiapkan diri untuk senja hari ini. berbalut kaos oblong berwarna hijau bermotif garis-garis yang menutupi semua lengannya, Ara serasikan dengan kerudung hijau tua polos dan tak lupa jeans hitam yang membuat Ara berkata "nice" kepada pantulannya dicermin. ketika semuanya sudah pantas dikatakan "perfect", Ara segera bergegas. melangkahkan kakinya bersama senandung klakson-klakson kendaraan maupun berlomba-lomba menghirup asap knalpot yang sudah menjadi makanan sehari para pengguna jalan. tidak heran, memang. jika ibukota yang memiliki banyak gedung-gedung tinggi sebagai pusat perkantoran, hotel maupun apartemen. pusat-pusat perbelanjaan yang kian memanjakan para hedonis. sampai "mart" yang kian bersanding dan mudah ditemukan bak kacang rebus. sering kali Ara mendongakan kepalanya ketika melihat gedung tinggi. norak? bukan. ironis! untuk ibukota sebagai pusatnya sebuah negara kian hari kian memprihatinkan. orang-orangnya tidak sepertu dulu. tanahnya tidak seperti dulu. alamnya tidak seperti dulu. romantismenya pun tidak seperti dulu. itu pun Ara mengetahuinya dari cerita orang dulu. 

ketika Ara teringat akan cerita orang dulu, ia hanya bisa tersenyum meringis. terlebih ironis untuk batin yang kian memberontak ketika Ara hanya bisa melontarkan kalimat-kalimat kekesalannya pada kondisi si ibukota sekarang ini tanpa bisa melakukannya. untuk meredamnya, tentu saja Ara meragkai seuntai do'a pertanda banyak sekali harapan untuk ibukota kesayangannya. masih dalam melangkahkan kakinya, terbesit dalam benak Ara untuk mengorek sebuah tempat yang tak biasa seperti biasanya ditengah kebisingan mesin-mesin industri. kembali menatap lukisan biru-Mu berbalut kapas sebagai luapan imajinasi. tatkala Ara mendapatkan senyum sumringah dari alam-Mu. memulai, merasakan, menari bersama ilusi yang diciptakannya sendiri. hamparan kehijauan dapat berkaca pada bulir-bulir embun yang dimilikinya. berbatas trotoar berkawan lampu jalan yang masih padam, meyakinkan Ara untuk melangkah menjauh dari aspal jalanan. berjalanan pada pematang yang dimilikinya, melirik kantong-kantong bening melambai, memeluk erat kembali udara, sampai pada rentangan kedua tangan mungilnya dengan mendongak kepala mengikuti mata yang terpejam dan sebuah kata terucap dalam hati "ini imaji nyata. seandainya.............................................."  

21 Maret 2014
01:18

Kamis, 30 Januari 2014

#myautumn

..dan seperti biasanya, Ara begitu ia dipanggil, sedang memilah-milah kaos yang akan dikenakan untuk sore ini. yang hitam? ungu? hijau? atau biru tosca? gak lupa ia melirik ke arah jam weker berbentuk kotak yang ia letakkan di atas box pakaiannya berwarna hjiau. masih memilah-milah dan ia harus segera memutuskan karena waktu terus berjalan tanpa peduli kepada siapa pun. kaos hitam pendek dengan kemeja kotak-kotak ungu sebagai pelapis luarnya. celana jeans hitam, serta kerudung ungu tidak lupa ia kenakan untuk menselaraskan penampilannya. dengan make up sekedarnya dan parfume yang menambah ciri khas aroma tubuhnya. cepat namun pasti. dengan bantuan cermin, ia memastikan keselarasan penampilannya. dengan berpamit kepada kedua orang tuanya, ia menuju ke pintu pagar dan mengeluarkan si putih. si putih ia sebutkan untuk sebuah motor berwarna putih pemberian sang ayah. dengan beralas kaki sendal gunung, ia langsung melajukannya.
tak seperti biasanya, kali ini langit mu tersenyum mesra. bersama awan dengan putihnya, cahaya bening tak lupa mengintip disela-selanya. tak terasa, ia tersenyum kecil seakan membalas langit yang sudah memberikan senyumannya. udara sejuk pun merayu, mengisyaratkan ia untuk berhenti ke suatu tempat. tempat dimana ia bisa meluapkan segala rasa, ekspresi, cerita, hingga kisah. sedikit menaikkan kecepatan lajunya dengan pasti karena ia ingin cepat berada di sana.
yupz.. hitungan waktu empat puluh tujuh menit lewat sebelas detik. segera ia mendirikan si putih disamping pohon setengah besar nan kokoh yang sudah lahir sejak ia waktu dulu. yaa! waktu dulu! seperti biasa, langsung saja ia menyandarkan dirinya di sebuah kursi besi panjang putih tepat menyerong dari arah pohon tadi tersebut. memejamkan mata sejenak. menyambut alam dengan belaian udaranya, mendengarkan gesekan-gesekan dedaunan yang dibuatnya menari, dan cahaya jingga yang menyorot sebelah mukanya. srek! daun cokelat jatuh tepat di atas dahinya, membuyarkan komunikasinya dengan alam. "autumn is comes" begitu ucapnya. kemudian ia berdiri, berpijak pada kehijauan rumput, memandang barat untuk sang mentari pergi, membentangkan kedua tangan, menatap tajam-tajam kepada jingga, hingga ia mengerti tanpa mata membuka.
dan lagi. kembali menyambut alam mu
bersama jingga untuk senja
hingga sang raja berpulang
terpeluk udara yang membelai
untuk seru deru nyanyian yang tercipta
dendang kan lagu riang
hingga terbesit senyuman mesra mu, kelak
akan setia, pada musim gugur mu..

31 Februari 2014
02:13

Sabtu, 25 Januari 2014

#celoteh

Intropeksi

cahaya lampu-lampu kota masih kokoh menerangi tempat persinggahan
irama klakson-klakson kendaraan mengiringi setiap langkah
udara pun sangat setia pada jiwa
yang terlampau dalam imajinasi
hingga bungkam
mamandang wajah dalam cermin retak
01:28 110513

Kenangan

ku dapati bisikan daun yang menyatu dalam sunyi
belaiannya masih bisa ku rasakan
tergores rintik bersama cahaya putih
di bawahnya aku tidak dapat merasa
dan aku ingin
suatu hari ia pasti akan menyapa
01:22 080513

Pak Tua

kau tidak mengeluh, meski tak beralas kaki
kau tidak mengeluh
meski harus terbakar matahari
dan kau pun tidak menyeka keringat yang membendung
namun terdengar isu yang tersibak
diantara udara yang usil
tentang rintihan
tentang jeritan
dan mengaduh
itu kau!
yang bersendagurau pada dinding bilik bambu
yang tersenyum pada atap alang-alang
23:42 130513

Celoteh #1

dan kembali pada dewi malam
yang merangkul sang raja
pada lembah kenistaan ku berada dalam selimut rindu
sementara lupa untuk pelangi mu
22:17 130513

Celoteh #2

cerah yang kau miliki
tak dapat membendung segala kekhawatiran
apakah langit masih dengan birunya
awan setia pada putihnya
serta jingga dalam senja
kau dalam seru deru nyanyian alam
peluklah jiwa yang sepi
13:35 110513

Celoteh #3

itukah cara hujan
untuk mewakili setiap kesedihan
entah kapan terakhir waktu
mendapatkan kebahagiaan ditengah deras mu
agar kau tahu (mungkin)
#inmyimagine
00:47 110513

Celoteh #4

pelangiku sudah lama
mendusta
sering kali rintik mengibaskan
dibenak ku tanpa lembayung
atau pun kau
060513

P.E.K.A

kata orang pelangi memiliki tujuh warna yang indah
jika satu warna tidak ada di dalamnya
apakah masih bisa dikatakan
bila itu adalah sebuah pelangi
mungkin jika orang itu memang egois
dan mengatakan bahwa itu adalah pelangi
dan aku tidak mengatakan itu
jika pelangi
kehilangan satu warna sekali pun
01:36 150513

Menatap

tik tok arloji
meruap, memecah sepi
masih saja kepada waktu
yang menentukan dan mensiasati
dalam setiap ilusi
berimaji dengan sesuka hati
entah...
apa aku terlalu banyak berharap
atau mimpi-mimpi yang ku buat sendiri
agar bisa menatap cakrawala
di senja di atas bukit
menikmati belaian di setiap peluh
sampai mata tertutup
dan waktu mu menjawab ku

Aku BERHARAP

pada sebuah kepercayaan
aku berharap
pada sebuah kerinduan
aku berharap
pada sebuah keharmonisan
aku berharap
pada sebuah pertengkaran
aku berharap
pada sebuah cinta kasih
aku berharap
N A M U N
pada sebuah masa depan
kita berharap

Menunggu

lajunya seperti biasa
yaa empat puluh kilometer per jam
dari rumah menuju tempat tujuan
ku berpikir
aku akan singgah dulu
menghabiskan sebatang rokok
sambil menunggu kabar dari mu
entah...
apa yang diinginkan langit
yang selalu meratap sepi sedih
yaa.. mungkin saja memang sedang waktunya
menunggu
sampai hujan reda
15:18 180114

FokuS

1 2 3 4 5 6 7 8 ...
akh ! aku lupa!
selanjutnya?
4 5 6 7 8 9 10 11 ...
berhenti! aku lupa!
selanjutnya?
... ... .... .... .... .... ... ... .... .... .... .... ....
kok malah tak ada angka?
kosong?
tidak!
nol?
tidak!
lalu?
buyar! fokus!
argh!
diam!
15:47 190114

Ocehan

tik
tik tik
tik tik tik
tik tik tik tik
tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik
tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik
pelan pak
pelan pelan bu
pelan mas
pelan pelan mbak
woy! pean pelan, anjing!
genangan airnya nyiprat, setan alas!
bangke! brengsek! bangsat! basah!
15:51 190114

Senin, 03 Desember 2012

coret-coret

dan ketika  seorang anak manusia dilahirkan maka ia pun akan membuka mata untuk melihat indahnya dunia. akan mendengar denting waktu yang tidak setiap detiknya selalu memeberikan kebahagiaannya. akan menghirup setiap oksigen yang kita tidak pernah tahu berapa harga disetiap hirupnya. akan melukis setiap keinginan serta harapan diatas kertas putih dengan pena menari di atasnya. akan mencintai dan menyayangi orang disekelilingnya. detik pun akan mengatur semua. dari bayi, anak-anak, remaja hingga beranjak dewasa. seringkali terjebak dalam kedewasaan. entahlah. problematika setiap detikya mengantarkan kepada kebimbangan. tidak pernah aku berfikir tentang duri kepada mawar. banyak beranggapan jika duri terlalu tajam untuk jari yang menyapanya. tetapi duri setia kepada mawar, karena duri ingin melindungi mawar dari jari jemari yang suka membelainya. tidakkah setiap wanita ingin seperti mereka. saling menjaga dan mengucap janji hingga tutup usia. entahlah. sebagian dari probelamtika yang ada hanyalah kepada soal masa lalu dan pencarian arti cinta yang sesungguhnya. terlalu lemah seorang anak manusia jika merujuk pada perasaan dan hati yang bermuara pada cinta. cari atau search lalu berfikir tentang arti kata tersebut. aku sudah tidak mau tahu, peduli atau apa pun itu.

Jumat, 30 November 2012

R A I N

sudah selesaikah hujan tadi ?. akh. aku terlalu benci dengan ia. selalu tidak tepat janji dengan pelangi. tak pernah ku lihat pelangi setelah ia pergi. tak pernah ku lihat warna-warnanya yang kata orang-orang ada tujuh warna. hanya saja ketiga warna yang sering dibicarakan. belaian angin pada daun tua mengusik rantingnya. kabarnya pun ku dapat darinya. entah kapan aku dapat mendengar hujan tepat akan janjinya. janji ketika ia pergi akan ada pelangi setelahnya. sudah semenjak aku masih berseragamkan putih merah sampai aku tak kanak-kanak lagi, masih tetap menanti kedatangannya. dapat ku ceritakan sebelum hujan menyapa tanah. ini memang sudah skenario yang memiliki alam semesta. ketika itu siang dikala malam. siang setelah sang raja menyinari setiap permukaan alam. dengan diiringi awan putih bak kapas putih menghiasi langitnya. biru dan sumringah. bening air yang bersemayam di setiap cekungan, kadang tidak tahan dengan sang raja. uapnya menari ke atas hingga membentuk awan. awan pun mudah goyah ketika angin sudah mulai membelai. tak dapat dibendungnya uap air hingga hujan pun terlahir darinya. ketika hujan berlari ke bumi, tak mampu kita menghitung dengan rumus matematika, fisika atau rumus a.einstein sekalipun mengenai jumlah tetes air yang sampai ke bumi. entah ia tahu atau tidak, jika setiap tetesan air yang bersamanya, membawa malaikat. sungguh jumlah yang tidak sedikit. seharusnya para manusia bersyukur ketika hujan masih mau menyapa. jika hujan sudah enggan maka tak ada tanah yang basah karenanya. yang ada membentuk retakan-retakan tanda kekeringan. manusia hanya bisa menyalahkan alam. tanpa melihat manfaat yang diberikan. yaa walaupun terkadang mengucap "syukur". setelah ia mulai pergi, aku selalu dan selalu berharap pelangi mengintip dibias cahaya itu. tapi belakangan ini ia enggan dengan eksistensinya. yaa mungkin hanya bisa bersabar untuk hal itu. sudah rindu rasanya ingin menyaksikan kembali aksinya. walaupun hanya seperkian second dari waktu yang biasanya seenak perutnya. tidak pernah mengerti akan suasana nikmat. masih seperti dulu kok. di atas tanah bumi pertiwi, di samping bunga bunga cempaka, di belakan pohon cemara dengan daun tuanya, dan di depan cahaya cakrawala untuk menikmati sedikit bias cahaya mu.

Jumat, 02 Desember 2011

-Sang Penyair

sebuah novel karya seorang sastrawan Perancis dan disadur oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi. mengkisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Sreno kepada seorang gadis cantik -Rokisan. namun cintanya bertepuk sebelah tangan !!.

..cinta sejati dan abadi tidak akan hilang namun bersembunyi dalam hatii...

-----
Jiwaku menjadi pakaian tubuhmu.
Aku berada di sela-sela bilik jiwamu, dan bersembunyi di lubuk hatimu
Engkau akan menjadi segalanya bagi dia,
sedang aku sirna, tidak ada sama sekali.
Dia akan senantiasa bahagia, bila di sisinya berdiri manusia sempurna.
Engkau akan menjadi manusia idaman baginya.
Kita tidak sedang berusaha tuk menipunya,
karena yang kita lakukan adalah untuk kebahagiaannya.
-----
Dia akan mendengar suara kalbuku yang terucap dari mulutmu,
Merasakan jiwa dan ruhku dari tubuhmu,
Meminum perasaan sukmaku dari gelasmu,
Menyanyikan irama laguku dari kenyaringan suaramu.
-----
Jadilah engkau lidah dan aku pikirannya
Engkau tubuh dan aku ruh
Engkau keelokan dan aku akal
Engkau bunga dan aku keharumannya
Engkau mata dan aku cahaya yang memancar
Engkau hati, dan aku cinta yang terpendam di dalamnya
----
Rintihan dan jeritanku ini, seperti seekor burung yang terbang di angkasa, dan aku telah menemukan tempat hinggap, yaitu di atas tanganmu.

-(Kata-kata ini di ucapkan oleh Sreno kepada rival cintanya, yaitu Christian. 'Dia' yang dimaksud di atas adalah wanita yang dicintainya, Rokisan)-
-----
Aku akan bahagia karena aku adalah Sang Penyair.
Seorang penyair bersandiwara dengan fitrahnya.
Ia akan menikmati pakaian yang bukan pakaiannya,
Menampakkan perasaan jiwa yang bukan kata hatinya
Ia berperan sebagai orang gila, padahal ia orang yang cerdas.
Berperan sebagai pemberani, padahal ia pengecut.
Berperan bahagia, padahal ia... menderita.
Ia juga bisa berperan sebagai pecinta,
yang menekan getaran cinta di hatinya untuk kebahagiaan orang lain.

-(Kata-kata ini juga diucapkan oleh Sreno kepada Christian saat Christian menanyakan kepadanya mengapa ia begitu baik, mau membantu cintanya terhadap Rokisan)-